Kamis, 30 April 2009

PERTEMUAN XIV
KEAMANAN WIRELESS NETWORKING

Keamanan Jaringan Nirkabel

foto berita artikel

Penggunaan jaringan Internet yang kian marak dewasa ini telah mendorong pertumbuhan teknologiteknologi jaringan nirkabel (Wireless Network), yang sangat memudahkan penggunanya dalam mengakses Internet. Namun begitu ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar dalam penggunaan jaringan nirkabel ini dapat berjalan dengan aman.

Lahirnya Jaringan Nirkabel untuk Rumah


Dahulu komputer lebih dianggap sebagai sebuah kemewahan daripada sebuah kebutuhan. Hanya orang-orang kaya dan beruntung saja yang dapat mempunyai sebuah komputer, sedangkan jaringan merupakan hal yang hanya dapat disediakan untuk perusahaan besar.

Namun sejalan dengan kemajuan yang pesat pada dekade ini, maka sekarang setiap orang masing-masing dapat mempunyai komputernya sendiri. Seperti yang banyak kita temui, biasa nya setiap orang tua mempunyai komputernya sendiri, begitu pula dengan si anak dapat mempunyai komputernya sendiri walaupun mungkin hanya digunakan untuk bermain dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Para pengguna rumahan juga telah berkembang dari yang semula tidak mempunyai akses Internet, kemudian mulai memakai koneksi dial-up Internet dengan kecepatan 9600 kbps melebihi 56 kbps dial up akses, dan kini berkembang menjadi koneksi broadband menyaingi koneksi T1 yang sering dinikmati orang saat bekerja.

Sebagaimana Internet dan World Wide Web telah menjadi trend dalam kebudayaan kita dan menggantikan format media massa lainnya dalam menyampaikan informasi yang dicari, mulai dari informasi pemberitaan, olahraga, cuaca, resep, yellow pages (buku telepon), dan masih banyak hal lainnya yang kesemuanya itu merupakan sebuah cara baru, bukan hanya dalam pemakaian komputer di dalam rumah, tapi juga dalam hal pemakaian koneksi Internet.

Sementara itu perusahaan perangkat keras maupun perangkat lunak kini telah menawarkan berbagai solusi yang memungkinkan para pemakai Internet di rumah saling berbagi koneksi antara lebih dari dua komputer. Meskipun semua komputer tersebut harus terhubung jaringan.

Untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya biasanya membutuhkan berbagai macam media fisik, seperti kabel telepon, kabel coaxial, ataupun kabel CAT5 kabel telegram yang ada di mana-mana. Namun baru-baru ini telah ditemukan cara baru pemakaian Internet tanpa menggunakan berbagai macam media penghubung terseut, teknologi ini kini lazim disebut koneksi jaringan Nirkabel (tanpa kabel). Pemakaian Internet dengan menggunakan koneksi jaringan nirkabel ini tentu saja sangat memudahkan pemakainya dalam mengakses Internet, tanpa melalui proses installasi dan pemasangan kabel yang memusingkan.

Adapun susunan koneksi jaringan nirkabel ini sangat sederhana. Koneksi Internet masuk dari Internet Provider kemudian dihubungkan dengan suatu titik penerus akses nirkabel atau router yang memancarkan sinyal. Ketika Anda terhubung dengan memakai kartu atau antena jaringan nirkabel untuk menerima sinyal, begitu pula sebaliknya, maka koneksi Anda telah berhasil.

Masalah yang sering timbul pada saat menikmati koneksi sinyal nirkabel ini adalah sulitnya mengetahui sampai sejauh mana sinyal ini dapat diterima. Jika sinyal tersebut dapat ditangkap dari lantai atas sebuah kantor, maka seharusnya juga dapat ditangkap dari basement yang berada 100 kaki di bawah tanah. Ini dapat saja membuat seorang hacker mencari celah dari koneksi nirkabel tersebut untuk mendapatkan berbagai informasi penting mengenai Anda.

Namun itu bukan berarti tidak menyarankan penggunaan jaringan nirkabel. Hanya saja Anda harus cermat dalam menggunakan jaringan nirkabel ini, serta mengambil beberapa pencegahan dasar agar pemakaian teknologi ini dapat benar-benar aman. Berikut ini merupakan beberapa langkah sederhana yang dapat dijalankan untuk mengamankan jaringan nirkabel yang Anda pakai.

6 Langkah Pengamanan Dasar Jaringan
:

1. Ubahlah Sistem ID (Identitas)

Biasanya suatu layanan nirkabel dilengkapi dengan suatu standart pengamanan identitas atau yang sering disebut SSID (Service Set Identifier) or ESSID (Extended Service Set Identifier). Sangat mudah bagi seorang hacker untuk mencari tahu identitas default dari suatu layanan atau jaringan, jadi sebaiknya Anda segera mengubahnya menjadi suatu identitas yang unik, yang tidak mudah ditebak orang lain.
koneksi jaringan Internet itu sendiri, sehingga kemudian lahirlah suatu

2. Mematikan identitas pemancar
Dengan mengumumkan kepada umum bahwa Anda memiliki suatu jaringan nirkabel akan membuat para hacker penasaran untuk membobol jaringan nirkabel Anda. Mempunyai suatu jaringan nirkabel bukan berarti harus memberitahukannya kepada semua orang. Periksalah secara manual perangkat keras yang Anda pakai untuk jaringan nirkabel tersebut, dan pelajarilah bagaimana cara mematikannya.

3. Sediakanlah enkripsi
WEP (Wired Equivalent Privacy) and WPA (Wi-Fi Protected Access) dapat meng-enkripsi data Anda sehingga hanya penerima saja yang diharapkan dapat membaca data tersebut. WEP (Wired Equivalent Privacy) mempunyai banyak kelemahan yang membuatnya mudah disusupi. Kunci 128-bit hanya mempunyai tingkat pencapaian yang relatif rendah tanpa peningkatan keamanan yang signifikan, sedangkan untuk 40-bit atau 64-bit pada beberapa perlengkapan lainnya, mempunyai enkripsi yang sama baiknya. Dengan cara pengamanan yang standart saja pastilah tetap akan mudah bagi hacker untuk menyusup, namun dengan cara enkripsi ini pastilah akan membuat jaringan Anda lebih aman dari hacker. Jika memungkinkan, ada baiknya untuk menggunakan enkripsi WPA (peralatan yang lebih tua dapat diupgrade terlebih dahulu agar compatible dengan WPA). WPA dapat sangat menjanjikan dalam menjamin keamanan jaringan nirkabel Anda, namun masih tetap dapat dikalahkan oleh serangan DOS (denial of services).

4. Membatasi dari penggunaan traffic yang tidak perlu
Banyak router jaringan kabel maupun nirkabel yang dilengkapi firewalls. Bukan bermaksud mengedepankan firewalls, namun firewalls telah membantu dalam pertahanan keamanan jaringan. Bacalah petunjuk manual dari perangkat keras Anda dan pelajarilah cara pengaturan konfigurasi router Anda, sehingga hanya traffic yang sudah seijin Anda saja yang dapat dijalankan.

5. Ubahlah 'kata sandi' default Administrator milik Anda
Hal ini baik untuk semua penggunaan perangkat keras maupun perangkat lunak. Kata sandi default sangat mudah disalahgunakan, terutama oleh para hacker. Oleh karena itu sebaiknya ubahlah kata sandi Anda, hindari penggunaan kata dari hal-hal pribadi Anda yang mudah diketahui orang, seperti nama belakang, tanggal lahir, dan sebagainya.

6. Kunci dan lindungilah komputer Anda
Hal ini merupakan cara pengamanan terakhir untuk komputer Anda. Gunakanlah firewall, perangkat lunak Anti Virus, Zone Alarm, dan lain sebagainya. Setidaknya setiap satu minggu perbaharuilah Anti Virus yang Anda pakai.


SMC Wireless USB Adapter (SMC2862W-G) - Pentingnya Keamanan Jaringan Print E-mail

Memasang jaringan kabel pada gedung-gedung tua yang mungkin memiliki nilai sejarah tinggi dapat menjadi suatu hambatan tersendiri. Pada contoh kasus tersebut, memasang kabel merupakan solusi yang rumit untuk dilakukan. Untuk lingkungan yang sulit bagi jaringan kabel seperti ini, Anda dapat memanfaatkan teknologi jaringan wireless yang relatif lebih fleksibel. Image CHIP berkesempatan untuk menguji sebuah Wireless USB Adapter dari SMC Networks dengan standar IEEE 802.11g. Standar ini tentunya memiliki kompatibilitas ke belakang (dengan infrastruktur IEEE 802.11b). SMC Networks juga menjanjikan dukungan protokol keamanan WPA2 (Wi-Fi Protected Access 2) hanya dengan melakukan update driver saja. Perlu diketahui bawah standar keamanan dengan protokol WPA2 merupakan standar keamanan wireless di masa depan menggantikan standar WEP. Adanya kemungkinan upgrade ke standar WPA tentunya memberi nilai tambah untuk produk ini. Sebuah CD yang berisi PDF Manual dan Installation Wizard untuk kemudahan proses instalasi hardware dan software juga disediakan oleh SMC. Wireless USB Utility sebagai software konfigurasi wireless adapter dari SMC ini tergolong lengkap untuk melakukan scanning wireless network yang ada. Anda juga bisa melihat status koneksi (link quality) dan kekuatan sinyal (signal strength). Pengaturan setting RTS Threshold, Fragment Threshold, dan Transmit Power dapat dilakukan hanya dengan menggeser sejumlah slider yang disediakan. Anda juga dapat menentukan kecepatan transfer antara 1-54Mbps ataupun otomatis (Auto). Semakin rendah nilai transmit rate ini, semakin jauh jangkauan aksesnya. Untuk memberikan IP Static kepada network device ini, Anda harus tetap mengakses menu properties dari Internet Protocol (TCP/IP). Jika dilihat secara fisik, terdapat beberapa status untuk LED Indikator pada SMC Wireless USB Adapter ini yaitu On (mengindikasikan adanya koneksi yang valid) adanya proses transmisi data. LED Indikator akan memancarkan sinar hijau saat terjadi koneksi. LED ini akan berkedip dengan kecepatan rendah ketika melakukan scanning wireless network dan semakin tinggi saat mengirim dan menerima data.

Teknologi Wireless: Bercengkerama di Jalur WiFi

teknologi wifi SEBAGIAN komunitas yang mempergunakan jalur frekuensi 144 MHz (megahertz) ini kemudian bermigrasi dan berevolusi ke jalur tanpa izin (unlicensed) yang dibuka untuk masyarakat dunia, yaitu jalur 2,4 GHz (gigahertz) atau 24.000 MHz. Terutama mereka yang berasal dari kalangan kampus maupun para eksekutif muda yang sudah akrab bergaul dengan produk-produk teknologi canggih.

Komunitas baru pun tumbuh, terutama bagi mereka yang alergi dengan gaya-gaya breaker atau bahkan mereka yang tidak pernah berkomunikasi dengan radio sama sekali. Dengan membebaskan jalur 2,4 GHz untuk kepentingan umum, hal itu sepertinya telah memberi peluang baru seperti pada era keemasan radio 2 meteran.

Tidak mengherankan apabila sekarang sudah mulai banyak yang mempergunakan sarana di jalur gelombang mikro ini untuk “mojok”. Awalnya memang hanya komunikasi tulisan dengan perangkat komputer kecil seperti notebook atau PDA (Personal Digital Assistant) saja, tetapi belakangan ini sudah ada yang menggunakan handset untuk berkomunikasi suara.

Hal ini dimungkinkan karena berkembangnya teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol). Teknologi VoIP sendiri sebelumnya sempat membuat geger penyelenggara telekomunikasi yang tertinggal oleh pesatnya kemajuan teknologi telekomunikasi ini.

Dengan jaringan WiFi sangat dimungkinkan untuk melakukan hubungan ala VoIP atau ada yang menyebut dengan VoIP over WiFi (VoWiFi). Berkomunikasi dengan mitranya di luar kota dengan biaya lokal atau bahkan gratis sama sekali melalui layanan WiFi di kafe.

Bahkan sekarang sudah ada handset untuk melakukan hubungan telepon VoIP melalui jaringan WiFi, selain aplikasi telepon Push-to-Talk (PTT) melalui telepon VoIP. Pada jaringan telepon seluler produk handset PTT atau teknologinya juga disebut PTT over Celluler (PoC).

Cara berkomunikasi dengan perangkat PTT atau PoC sama seperti berbicara mempergunakan pesawat handie talkie (HT) biasa. Pencet tombol saat berbicara atau Pust-to-Talk dan pada saat yang bersamaan lawan bicara-bisa satu atau beberapa-mendengarkan.

Termasuk telepon video yang bukan hanya suara, tetapi juga gambar dari lawan bicara, ini merupakan peningkatan penggunaan VoIP over WiFi. Kebanyakan perangkat yang dibuat masih untuk perangkat ponsel, termasuk istilahnya pun masih masing-masing.

KOMUNIKASI VoIP tidak bisa dihalangi lagi, dan komunikasi suara yang murah ini juga masih menjadi muatan yang dominan dalam telekomunikasi masa depan. Sistem ini menjadi murah jika digunakan untuk jarak yang jauh, antarkota, atau bahkan dengan luar negeri.

Dengan PDA phone seseorang bisa bercengkerama melalui saluran WiFi maupun jaringan telepon seluler sesuai dengan operator yang dilanggani. Baik berkomunikasi dengan gambar video atau hanya tulisan (chatting) atau bahkan hanya berbicara saja layaknya telepon konvensional atau HT.

Ketika bergerak, seseorang bisa mempergunakan PDA sebagai sarana telepon seluler, dan pada saat diam dan berada di suatu tempat yang terdapat hotspot atau access point yang bisa diakses untuk menggunakan jaringan WiFi.

Bahkan perusahaan-perusahaan besar sekarang menggunakan jaringan WiFi untuk memperluas jaringan kabel. Mereka menghubungkan titik akses nirkabel ke jaringan backbone mereka untuk menyediakan akses jaringan dan internet di ruang-ruang pertemuan, lobi, kantin, dan ruang-ruang umum lainnya.

Tentu ini akan memberikan fleksibilitas yang sangat tinggi, selain juga biaya yang murah. Komunikasi telepon nirkabel bisa dilakukan melalui WiFi dan tidak perlu keluar melalui saluran telepon atau koneksi internet lainnya selama masih berada di dalam jangkauan gelombang radio WiFi.

Sepertinya WiFi akan menyedot kue yang diperebutkan para operator seluler maupun operator telepon tetap. Namun, seperti Telkomsel, mereka justru membuka layanan WiFi bagi para pelanggannya yang mereka sebut Surfzone.

Saat ini Telkomsel sedang mendemonstrasikan fasilitas WiFi mereka dan pada saat yang sama mereka juga memperkenalkan jaringan seluler berkecepatan tinggi atau Enhanced Data rate GSM Evolution (EDGE) dengan kecepatan sampai 128 kbps.

Pemilik handset seperti Nokia 9500 Communicator bisa langsung mencoba dua layanan yang sedang didemonstrasikan ini. Tak banyak PDA yang dirancang untuk memiliki dua fasilitas berkecepatan tinggi tersebut.

Seperti iPAQ h6365 dari Hewlett-Packard (HP) bisa akses WiFi, tetapi tidak bisa EDGE, kecuali saluran GPRS kelas 10. Sama halnya dengan O2Xda Iis yang bisa WiFi, tetapi fasilitas seluler hanya GPRS. Adapun Treo 650 bisa untuk EDGE, tetapi tanpa WiFi.

SEMULA WiFi atau Wireless Fidelity yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dan 5,8 GHz ini lebih berfungsi bagi para pengguna notebook atau PDA untuk mengakses internet tanpa kabel. Itu terutama bagi mereka yang sedang bepergian, seperti di bandara, hotel-hotel besar, kafe-kafe, maupun mal-mal.

Dalam dunia industri WiFi dikenal dengan teknologi komunikasi wireless LAN (WLAN) yang berhubungan dengan standar jaringan nirkabel Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) 802.11. Dengan standar 802.11b mampu menyalurkan 11 megabit per detik (mbps) dan 54 mbps untuk standar 802.11a dan untuk jarak yang lebih jauh digunakan standar 802.11g.

WLAN menyelenggarakan komunikasi jaringan nirkabel pada jarak pendek (terbatas) dengan daya yang rendah. Dengan daya yang dibatasi sehingga hanya bisa menjangkau sekitar radius 100 meter saja, dengan demikian akan mudah terhalang tembok maupun benda-benda penyekat lain.

Walaupun untuk kondisi seperti di Indonesia ada yang menggunakan booster untuk memperluas jangkauan, terutama untuk kegiatan luar ruang, atau juga melewatkan pada kabel listrik yang sebagai antena untuk menembus tembok beton.

Seperti halnya sebuah teknologi nirkabel seluler, WiFi memungkinkan perangkat seperti PDA phone ataupun notebook menjelajah internet, selain berhubungan langsung antarmereka point-to-point. Termasuk antargedung atau antarkawasan dari sebuah perusahaan atau kampus yang sama.

Meskipun daya yang dipergunakan kecil, WiFi mampu membawa informasi ribuan kali lebih besar daripada radio komunikasi konvensional yang pita frekuensinya sangat sempit. Karena itu, tidak heran apabila teknologi WiFi kemudian berkembang untuk aplikasi VoIP dalam komunikasi suara.

Sebelumnya kalangan kampus menggunakan radio komunikasi, termasuk jalur 2 meter, untuk berkomunikasi dengan tulisan (e-mail). Sekalipun hanya sedikit informasi yang bisa dialirkan ataupun diterima, hal itu sudah sangat membantu sebelum akhirnya jalur 2,4 GHz dibuka.

Tentu saja, karena kalangan kampus bisa bermigrasi ke jalur gelombang mikro itu tanpa harus takut dikatakan melanggar hukum tentang pemanfaatan frekuensi. Apalagi semakin banyak peralatan yang dijual untuk pita frekuensi itu dan WiFi tumbuh bak jamur di musim hujan.

“Di Jakarta ini sudah banyak sekali termasuk mereka yang menggunakan untuk point-to- point,” kata Sumaryo, seorang pengamat telekomunikasi WLAN di Jakarta. Sebut saja kawasan Jalan Thamrin, komunitas WiFi dikatakan sudah begitu padat, bahkan apabila dipindai akan terlihat betapa banyaknya aktivitas di jalur 2,4 GHz.

SOLUSI yang boleh dikatakan murah ini merebak di kampus-kampus kota besar. Mereka bukan hanya tidak direpotkan mencari koneksi ke jaringan telepon, tetapi juga unsur tidak perlu membayar inilah yang sebenarnya menarik.

Sepertinya mereka mendapatkan jalan keluar yang tepat daripada menjelajah internet melalui telepon kabel biasa. Belum lagi masalah lambatnya akses melalui telepon karena terlalu banyak pemakai, sedangkan jaringan sudah jenuh.

Selain akses ke jaringan LAN, maka jika pihak kampus menyediakan saluran ke internet, hal itu akan memungkinkan mahasiswa untuk menjelajah internet. Banyak bahan studi yang bisa dicari di internet, selain mereka juga membangun komunitas e-mail (mailing list), berkomunikasi dengan pihak luar.

“Untuk hubungan WLAN ke internet bisa digunakan jalur apa saja. Mau pakai broadband, jalur telepon biasa, ataupun serat optik,” kata Dyan Arifin, pelaku bisnis komputer.

Banyak kegiatan kampus yang bisa diinformasikan melalui jaringan nirkabel ini, apalagi jika tersambung ke jalur internet.

Apakah itu radio komunitas kampus yang selama ini menggunakan jalur frekuensi FM yang belakangan banyak ditertibkan, juga aktivitas televisi kampus bisa lebih dihidupkan melalui jaringan internet. (AW Subarkah) >>source:www.kompas.com.










ImageData Centric Technology bergerak dalam bidang IT (TOTAL IT SOLUTIONS) khususnya pengembangan JARINGAN BROADBAND WIRELESS ACCESS, CCTV, VOIP, VIDEO CONFERENCE, FIBER OPTIC yang siap memberikan produk, jasa dan layanan terbaik untuk kebutuhan anda.

Kami hadir sebagai solusi untuk kebutuhan anda akan Informasi dan Teknologi, khususnya bidang Networking, Wireless LAN untuk koneksi internet, data kecepatan tinggi, maupun Video on Demand dengan kualitas Teknologi yang mutakhir dengan kecepatan transfer data sampai dengan 300 Mbps.

Kami juga menyediakan berbagai produk Wireless LAN dari kelas Low End hingga High End diantaranya kami men jual Senao, Fulbond, Smartbridges, Motorola Canopy, Mikrotik, Proxim, Cisco, Hyperlink, Pacific wireless, Kenbotong, Repotec, Linksys, D-Link, Netgear dan lain-lain. Kami juga melayani pemasangan wireless outdoor sampai dengan jarak 100 km.
Kami juga menjual produk CCTV dan IP Camera merk Vivotek, Bosch, dan Axis dengan harga terjangkau yang kualitasnya tidak kalah dengan produk - produk ternama lainnya.

Apapun kebutuhan IT anda, kami siap membantu dengan produk, jasa, harga dan pelayanan yang terbaik.

ImageDi mana pun perusahaan Anda berada di Indonesia ini, dan apapun jenis usaha Anda, Data Centric Technology senantiasa siap melayani kebutuhan usaha Anda akan aneka perangkat dan solusi teknologi informasi. Silakan simak perusahaan mana saja yang sudah menjadi klien kami selama ini.


ImageSebagai bentuk komitmen kami untuk memberi produk, jasa dan layanan terbaik untuk kebutuhan IT anda, berikut kami sampaikan ragam layanan yang kami sediakan untuk solusi kebutuhan anda. Silakan simak dan jangan sungkan untuk segera menghubungi kami untuk mendapatkan layanan terbaik.













Aplikasi Teknologi Wireless LAN (WLAN)

Teknologi Wireless LAN (WLAN) adalah teknologi LAN yang menggunakan frekuensi dan transmisi radio sebagai media penghantarnya, pada area tertentu, menggantikan fungsi kabel. Pada umumnya WLAN digunakan sebagai titik distribusi di tingkat pengguna akhir, melalui sebuah atau beberapa perangkat yang disebut dengan Access Point (AP), berfungsi mirip hub dalam terminologi jaringan kabel ethernet. Di tingkat backbone, sejumlah AP tersebut tetap dihubungkan dengan media kabel. WLAN dimaksudkan sebagai solusi alternatif media untuk menjangkau pengguna yang tidak terlayani oleh jaringan kabel, serta untuk mendukung pengguna yang sifatnya bergerak atau berpindah-pindah (mobilitas). Frekuensi yang kini umum dipergunakan untuk aplikasi WLAN adalah 2.4 Ghz dan 5.8 Ghz yang secara internasional dimasukkan ke dalam wilayah licensce exempt (bebas lisensi) dan dipergunakan bersama oleh publik (frequency sharing). Belakangan oleh forum WSIS yang disponsori oleh PBB dan badan dunia seperti ITU, serta industri teknologi, frekuensi ini direkomendasikan sebagai tulang punggung penetrasi Internet di negara berkembang terutama untuk area yang belum terlayani oleh infrastruktur telekomunikasi konvensional. Teknologi yang digunakan untuk WLAN mayoritas menggunakan standar IEEE 802.11 (a/b/g). Perbedaan antar standar ini adalah pada modulasi transmisinya yang menentukan kapasitas layanan yang dihasilkan. Pada standar 802.11b, kapasitas maksimalnya 11 Mbps, 802.11g dapat mencapai 20 Mbps keduanya bekerja di frekuensi 2.4 Ghz. Sementara standar 802.11a bekerja pada frekuensi 5.8 Ghz. Karena lebar pita frekuensi yang lebih luas dan modulasi yang lebih baik, maka perangkat yang berbasis standar ini mampu melewatkan data hingga kapasitas 54 dan 108 Mbps dan menampung jumlah pengguna lebih banyak. Selain itu ada kelompok industri yang membangun aliansi, disebut dengan Wireless Alliance (WiFi Consortium). Lembaga ini berupaya menerapkan standar interoperabilitas antar perangkat WLAN sebagai jaminan bagi pengguna bahwa setiap perangkat yang telah disertifikasi WiFi akan dapat saling terhubung meskipun berbeda vendor atau pemanufaktur. WLAN juga memiliki kelebihan lain dalam hal kemudahan implementasi serta fleksibilitas. Semua perangkat yang saat ini ada di pasaran, memiliki interface yang user friendly dan sebagian besar kompatibel dengan berbagai macam sistem operasi dan teknologi jaringan LAN eksisting. Bentuk perangkat yang kompak dengan berbagai macam fitur yang beragam, memudahkan perencanaan dan implementasi jaringan. Teknologi WLAN saat ini juga sudah sangat mapan sehingga pengguna punya banyak alternatif solusi. Sebagian besar produk WiFi menggunakan chipset dan fitur yang generik, meskipun dimanufaktur oleh sejumlah vendor berbeda dengan brandname masing-masing. Karena bersifat massal, maka harganya juga sudah sangat terjangkau. Sebuah sistem AP lengkap, hanya membutuhkan sekitar $ 200 - $ 500. Sedangkan untuk pengguna, harganya sudah di bawah $ 100. Keterbatasan Perangkat WLAN bekerja pada frekuensi publik yang bebas lisensi, sehingga isu utamanya adalah terjadinya interferensi antar perangkat dan pengguna. Karena pada frekuensi ini sipapun bebas menggunakan dan memanfaatkan, dengan syarat harus toleran serta memperhatikan dan menghormati kondisi eksisting. Sehingga ada etika dan tanggung jawab moral untuk bersama-sama mengelola resource tersebut sehingga setiap pemain dapat hidup berdampingan. Pada setiap perangkat WLAN terdapat mekanisme dan fitur untuk menghadapi interferensi. Namun yang paling menentukan sebenarnya adalah desain jaringan yang tepat untuk setiap situasi yang dihadapi dan kecermatan instalasi. Seperti misalnya, kondisi line of sight (tanpa penghalang) dan menghitung efek redaman serta kemungkinan terjadinya multipath (sinyal pantulan yang mengganggu). Teknologi media transmisi WLAN sendiri sifatnya adalah bridging (Layer 2) dan sangat mirip fungsinya dengan perangkat hub pada jaringan LAN ethernet kabel. Sehingga pada dasarnya kapasitas maksimum yang dapat dilayani oleh sebuah AP, misalnya standar 802.11b adalah 11 Mbps, harus dibagi kepada sejumlah pengguna yang aktif. Sehingga semakin banyak pengguna aktif, performance dan troughput jaringan akan terdegradasi. Sehingga tingkat ekspektasi pengguna juga harus diturunkan terutama dari segi kualitas aksesnya. Meskipun memiliki sejumlah fitur dan teknologi pengamanan seperti filtering MAC address, enkripsi WEP atau WPA dan kemampuan VLAN dan VPN, namun tetap saja kualitasnya tidak sebagus perangkat teknologi dengan media kabel. Selain juga pada umumnya penerapan fitur keamanan akan menurunkan performa sistem. Sehingga apabila aplikasi pengguna sangat memerlukan standar security yang tinggi, maka jaringan WLAN bisa menjadi salah satu titik kelemahan yang harus diwaspadai dan disikapi secara berhati-hati. Aplikasi Indoor Aplikasi utama WLAN disebut dengan HotSpot, yaitu sebuah jaringan yang bisa melayani kebutuhan pengguna bergerak. Pengguna dengan perangkat mobile gadget seperti PDA, notebook bisa mengakses Internet di lokasi tertentu yang tersedia jaringan HotSpot WLAN. Semakin meluasnya perkembangan HotSpot telah mendorong terbentuknya bisnis model baru yang memungkinkan setiap provider melakukan kerjasama roaming bahkan hingga ke jaringan internasional, sebagaimana yang terjadi pada bisnis selular dengan memanfaatkan layanan otentikasi pelanggan dan clearing house semacam iPass. Pengguna bisa mendaftar sebagai pelanggan tetap pada provider HotSpot, sehingga bisa mengakses dari lokasi manapun yang tersedia. Pilihan lain, menjadi pelanggan on demand, biasanya secara pre paid dengan membeli voucher akses Internet via HotSpot pada suatu lokasi dari provider tertentu untuk durasi waktu tertentu. Pelanggan on demand biasanya lebih bebas untuk memilih provider mana yang akan digunakan, karena suatu lokasi bisa saja tersedia beberapa HotSpot dari sejumlah provider yang berbeda. Aplikasi lain adalah HotSpot di dalam jaringan internal perusahaan. Apabila pengguna di lingkungan perusahaan banyak yang menggunakan perangkat gadget mobile, maka diperlukan HotSpot pada beberapa lokasi strategis untuk melayani kebutuhan tersebut. Kebanyakan perangkat mobile saat ini sudah WiFi compliance, seperti misalnya notebook berbasis procesor Intel Centrino yang sudah built in dengan kemampuan WiFi. Apabila pengguna jenis ini masih tetap menggunakan kabel, maka mobilitasnya akan terhambat. Aplikasi Outdoor Di banyak negara berkembang (termasuk Indonesia) yang sangat terbatas ketersediaan infrastruktur telekomunikasinya, teknologi WLAN dengan kreatifitas tertentu banyak dijadikan sebagai alternatif akses last mile. Perangkat WiFi pada umumnya memiliki konektor yang bisa disambungkan dengan antena eksternal yang memiliki gain lebih tinggi. Dengan kombinasi ini, sebuah jaringan WLAN yang semula hanya bisa menjangkau area sampai radius 100 – 200 meter, kini bisa diperluas menjadi 3 – 5 km. Aplikasi outdoor ini meskipun menimbulkan konsekuensi biaya tambahan seperti untuk pembelian antena eksternal, jasa instalasi dan tiang atau tower penyangga namun secara umum masih sangat terjangkau oleh pelanggan pada umumnya. Untuk aplikasi pada area yang dekat (1 – 2 km) cukup banyak eksperimen serta produk asesoris lokal (seperti antenna) ditawarkan sehingga biaya bisa lebih di tekan sehingga makin menjangkau segmen pengguna yang lebih luas. Berbagai kemudahan dan struktur biaya yang makin rendah, mampu mendorong tumbuhnya bisnis layanan jasa baru yang disebut dengan Wireless ISP (WISP), serta RT/RW Net. WISP menyelenggarakan layanannya dengan berbasis pada teknologi WLAN, baik itu di sisi backbone maupun distribusi last mile kepada pelanggannya. Pada umumnya diselenggarakan oleh pengusaha lokal dengan skala usaha menengah dengan kualitas layanan menengah. Pelanggan utama WISP biasanya adalah Warung Internet (WARNET) yang memang telah dikenal sebagai ujung tombak penetrasi Internet karena biaya yang relatif rendah. Sementara RT/RW Net umumnya dikembangkan berdasarkan inisiatif komunitas di suatu lokasi pemukiman dan bersifat swadaya serta non komersial. Prinsipnya adalah berbagi pakai akses Internet secara massal untuk mereduksi biaya. Untuk last mile distribution, RT/RW Net juga mengandalkan teknologi WLAN dengan kombinasi produk eksperimentasi homebrew seperti antena dari kaleng susu dan modifikasi perangkat WiFi dengan port USB yang tergolong low end product. Teknologi dan desain outdoor yang sama di Indonesia juga banyak dipergunakan untuk aplikasi jaringan internal perusahaan. Misalnya sebagai backbone antar gedung dalam satu area atau distribusi jaringan antar kantor cabang dalam satu kota maupun digunakan sebagai infrastruktur jaringan backup bagi aplikasi yang mission critical. Dari segi aplikasi private, pengguna WLAN yang cukup menonjol dalam hal jumlah adalah komunitas pendidikan dan Pemerintah Daerah (Pemda). Pemanfaatan teknologi WLAN diyakini mampu mereduksi biaya rutin jaringan lokal close user group yang selama ini dilayani oleh operator telekomunikasi dengan beban charging berdasarkan durasi waktu atau flat bulanan hanya untuk sewa trunk atau pipa (media) akses saja. Dengan WLAN yang bebas lisensi dan biaya abonemen, dana operasional bisa dialihkan untuk meningkatkan kualitas content aplikasi E-Learning maupun E-Goverment. Masa Depan WLAN Masa depan teknologi WLAN terutama untuk aplikasi Outdoor adalah bergabung saling melengkapi (komplementer) dengan teknologi yang akan datang yaitu WiMAX. Dengan kombinasi itu WLAN akan menjadi bagian dari topologi jaringan Wireless MAN yang skalanya jauh lebih luas dan masif. Di Indonesia prototipe penggabungan kedua teknologi itu telah diwujudkan di daerah bencana Aceh, terutama di kota Banda Aceh, diselenggarakan oleh kelompok relawan yang tergabung dalam Yayasan AirPutih. Kompleksitas desain dan implementasi jaringan Wireless MAN memerlukan pendekatan dan bentuk topologi yang berbeda terutama dalam hal isu routing, redudansi dan agregasi di sisi backhaul. Pada saat ini sedang dikembangkan sebuah teknologi yang disebut dengan Mesh Topology. Dengan teknologi ini, dimungkinkan sebuah aplikasi routing yang lebih dinamis, kemudahan agregasi dan kemampuan redudansi yang diperlukan untuk menangani desain jaringan yang sangat kompleks dan terdiri dari berbagai macam teknologi, produk dan fiturnya. Sebagian produk WLAN saat ini sudah mulai mengimplementasikan Mesh Topology walaupun masing-masing pabrikan masih menggunakan standar proprietary yang tidak menjamin terjadinya interoperabilitas. Pada akhirnya, Teknologi WLAN lambat laun akan tergeser oleh penetrasi dari jaringan kabel yang diselenggarakan oleh operator. Namun, teknologi ini tidak akan habis begitu saja karena seiring dengan penetrasi tersebut akan terbuka lagi pangsa pasar baru di daerah suburban dan rural yang masih rendah nilai ekonomis pasarnya bagi teknologi jaringan kabel. Sementara solusi broadband tetap akan dibutuhkan di wilayah tersebut. WLAN masih akan tetap menjadi solusi terbaik untuk misi penetrasi akses Internet broadband pionee.


Teknik Mengamankan Wireless LAN
Salah satu kendala/keraguan dari pengguna Wireless Local Area Network (WLAN) yang paling utama adalah masalah security. Dengan pemanfaatan teknologi wireless maka data-data yang dikirim mau tidak mau akan melewati ”udara bebas”. Dengan kondisi tersebut ancaman terhadap isi datanya cukup besar. Beberapa ancaman terhadap sistem WLAN adalah adanya kerawanan terhadap bahaya penyusupan. Hal tersebut sangat dimungkinkan karena asal penyusup mempunyai WLAN card maka berarti dia sudah memiliki kesempatan untuk masuk ke jaringan. Dengan adanya kondisi di atas, maka diperlukan adanya keamanan jaringan WLAN secara berlapis-lapis.

Bila pada tulisan sebelumnya (Keamanan pada WLAN) dibahas mengenai berbagai tipe serangan pada WLAN maka tulisan berikut diformat untuk menjadi solusinya.

Segmentasi Jaringan

Dengan model pengamanan segmentasi jaringan WLAN, maka network WLAN dimasukkan/dikategorikan ke dalam subnet tersendiri. Atau dengan solusi lain jaringan WLAN dipisahkan ke jaringan extranet.

SSID (Service Set Identifier)

SSID merupakan nama network dari suatu jaringan WLAN, dan dapat diset sesuai dengan keinginan administrator. SSID dikenal juga dengan istilah ESSID. Fungsi SSID dikaitkan dengan keamanan WLAN adalah merupakan garda terdepan terhadap sistem keamanan WLAN. Setiap client yang akan masuk jaringan WLAN atau terhubung ke AP maka harus mengetahui SSID dari AP tersebut (lihat gambar 1. Contoh SSID jaringan WLAN di RisTI).

Gambar 1. Contoh SSID WLA

SSID pada dasarnya dapat diset broadcast maupun tidak (lihat gambar 2). Bila diset broadcast maka sangat mudah diketahui oleh pengguna yang mempunyai WLAN card. Semua device (notebook atau PDA) dengan scanning jaringan WLAN maka dapat dengan mudah mengetahui jaringan WLAN baik dengan software bawaan WLAN card maupun software tambahan lain.

Gambar 2. Seting SSID

MAC Filtering

Sistem pengamanan yang ke-tiga adalah dengan memanfaatkan filtering MAC (Medium Access Control) address. Biasangan seting di sisi AP terdapat pilihan mengenai daftar MAC address yang akan kita inputkan, apakah untuk kategorri allow/disallow atau forward all/block all (Gambar 3. Contoh seting MAC filtering).

Gambar 3. Contoh seting MAC Filtering

WEP (Wired Equivalent Privacy)

Wired Equivalent Privacy adalah algoritma enkripsi (shared key authentication process) untuk autentikasi user dan enkripsi data payload yang dilewatkan lewat jaringan wireless. Dengan demikian seperti namanya, maka sistem WLAN dirancang agar sama amannya dengan jaringan wired LAN. WEP menggunakan algoritma Pseudo Random Number Generator (PRNG) dan RC4 stream chiper. Standar IEEE 802.11 juga menspesifikasikan penggunaan WEP.

Dengan menggunakan teknik WEP ini, paket data yang akan dikirim dienkripsi terlebih dahulu. Kemudian paket data tersebut dikirim ke user yang terotorisasi . Sampai ke user penerima paket akan didekripsi menjadi data yang sebenarnya sehingga dapat untuk dibaca kembali. Untuk saat ini teknologi yang mensupport enkripsi dimulai dari 40 bit sampai 256 bit.

Seting bit atau karakter WEP dilakukan di sisi AP maupun di sisi client. Gambar 4 memperlihatkan seting WEP di AP. Jumlah karakter (secret key WEP) tergantung dari jumlah bit yang digunakan dan tipe karakternya apakah ASCII atau Hexadesimal. Sebagai contoh bila menerapkan WEP key dalam format ASCII, maka 5 karakter untuk 64 bit WEP dan 13 karakter untuk 128 bit WEP. Tetapi bila WEP key dalam format HEX, maka 10 karakter digunakan untuk 64 bit WEP dan 26 karakter untuk 128 bit WEP.

Gambar 4. Seting WEP di AP

Untuk seting di sisi client, maka pertama kali user akan melihat network WLAN (SSID) mana saja yang memungkinkan user akses. Sebagai contoh adalah gambar 5. Dalam gambar tersebut nampak beberapa SSID salah satunya RisTI Wireless LANs WEP (hanya AP ini saja yang diset WEPnya).

Gambar 5. Berbagai SSID network WLAN

Maka setelah user memilih SSID RisTI Wireless LANs WEP, maka dalam layar user akan nampak gambar 6. Dengan demikian user harus mengetahui WEP keynya.

Gambar 6. Network key di client

WPA (Wi-Fi Protected Access)

WPA merupakan perbaikan di sisi WEP. Belum semua AP (Access Point) mendukung fitur WPA, namun biasanya AP keluaran tahun 2003 ke atas. WPA ini sama fungsinya dengan dengan WEP, yaitu sebagai proses untuk autorisasi user maupun melakukan enkripsi data payload. WPA mengkombinasikan fungsi dari fitur 802.1x beserta fitur TKIP (Temporal Key Integrity Protocol).

Bedanya dengan WEP biasa, maka secret key-nya tidak bersifat static namun bersifat dinamic. Dengan demikian untuk jangka waktu tertentu secret key nya akan berubah. Namun demikian, untuk di sisi client, tidak perlu melakukan perubahan secara manual (user tidak terasa bila secret keynya berubah).

VPN (Virtual Private Network)

Dengan adanya VPN maka data yang lewat melalui jaringan wireless, seolah-olah dilewatkan melalui tunnel/terowongan khusus. Akibatnya bila diimplementasikan untuk area public akan lebih dijamin keamanannya. Agar keamanan WLAN lebih terpelihara dan terjamin, maka diperlukan keamanan tambahan disamping keamanan standar yang sudah ada di sistem WLAN.

Teknologi Wireless LAN menjadi sangat popular saat ini di banyak aplikasi. Setelah evaluasi terhadap teknologi tersebut dilakukan, menjadikan para pengguna merasa puas dan meyakini realiability teknologi ini dan siap untuk digunakan dalam skala luas dan komplek pada jaringan tanpa kabel.

Wireless LAN bekerja dengan menggunakan gelombang radio. Sinyal radio menjalar dari pengirim ke penerima melalui free space, pantulan, difraksi, Line of Sight dan Obstructed LOS. Ini berarti sinyal radio tiba di penerima melalui banyak jalur (Multipath), dimana tiap sinyal (pada jalur yang berbeda-beda) memiliki level kekuatan, delay dan fasa yang berbeda-beda.

Awalnya teknologi ini didesain untuk aplikasi perkantoran dalam ruangan, namun sekarang Wireless LAN dapat digunakan pada jaringan peer to peer dalam ruangan dan juga point to point diluar ruangan maupun point to multipoint pada aplikasi bridge. Wireless LAN di desain sangat modular dan fleksibel. Jaringan ini juga bisa di optimalkan pada lingkungan yang berbeda. Dapat mengatasi kendala geografis dan rumitnya instalasi kabel.(1)
1.2 Tujuan

Berdasarkan latar belakang di atas, paper ini bertujuan untuk mengetahui tentang apa itu WLAN berserta kelebihan dan kekurangan dari WLAN itu sendiri.
1.3 Lingkup Masalah

Masalah jenis-jenis frekuensi yang dapat dijangkau oleh WLAN sangatlah penting. Dalam tulisan paper ini hanya lebih menekankan pada lapisan fisik dari WLAN dan topologi yang ada pada WLAN.


2.1 Pengertian WLAN

Jaringan lokal nirkabel atau WLAN adalah suatu jaringan area lokal nirkabel yang menggunakan gelombang radio sebagai media tranmisinya. Link terakhir yang digunakan adalah nirkabel, untuk memberi sebuah koneksi jaringan ke seluruh pengguna dalam area sekitar.(3)

Gambar 2.1 Gambar Salah satu contoh topologi jaringan WLAN

2.2 Media Access

Wireless LAN menggunakan algoritma CSMA (Cariier Sense Multiple Access) dengan mekanisme CA (Collision Avoidance), sebelum sebuah unit memulai transmisi. Jika media kosong dalam beberapa milidetik maka unit dapat melakukan transmisi untuk waktu yang terbatas. Jika media sibuk atau padat, unit akan menunggu dengan random time sebelum mencoba lagi. Keuntungan dari CSMA adalah kesederhanaan. Hardware dan Software yang di implementasikan lebih sederhana, cepat dan tidak mahal dari pada hardware dan software yang diimplementasikan yang lebih kompleks.(2) 2.3 Sejarah WLAN

Pada akhir 1970-an IBM mengeluarkan hasil percobaan mereka dalam merancang WLAN dengan teknologi IR, perusahaan lain seperti Hewlett-Packard (HP) menguji WLAN dengan RF. Kedua perusahaan tersebut hanya mencapai data rate 100 Kbps. Karena tidak memenuhi standar IEEE 802 untuk LAN yaitu 1 Mbps maka produknya tidak dipasarkan. Baru pada tahun 1985, Federal Communication Commission (FCC) menetapkan pita Industrial, Scientific and Medical (ISM band) yaitu 902-928 MHz, 2400-2483.5 MHz dan 5725-5850 MHz yang bersifat tidak terlisensi, sehingga pengembangan WLAN secara komersial memasuki tahapan serius. Barulah pada tahun 1990 WLAN dapat dipasarkan dengan produk yang menggunakan teknik spread spectrum (SS) pada pita ISM, frekuensi terlisensi 18-19 GHz dan teknologi IR dengan data rate >1 Mbps.

Pasar yang menjadi targetnya adalah pabrik, kantor-kantor yang mengalami kesulitan dalam pengkabelan (seperti kantor dengan interior marmer dll), laboraturium, tempat-tempat yang bersifat sementara (seperti ruang kuliah, rapat, konfrensi dll) dan kampus. Perkiraan sementara yang dihasilkan menunjukkan bahwa kira-kira 5-15 % pasar LAN akan dikuasi oleh WLAN.(1)

Frame1

Gambar 2.2 Gambar Aplikasi WLAN dalam kantor

2.4 Standar WLAN

2.4.1 Lapisan Fisik dan Topologi

WLAN menggunakan standar protokol Open System Interconnection (OSI). OSI memiliki tujuh

lapisan di mana lapisan pertama adalah lapisan fisik. Lapisan pertama ini mengatur segala hal yang berhubungan dengan media transmisi termasuk di dalamnya spesifikasi besarnya frekuensi, redaman, besarnya tegangan dan daya, interface, media penghubung antar-terminal dll. Media transmisi data yang digunakan oleh WLAN adalah IR atau RF.
2.4.1.1 Infrared (IR)

Infrared banyak digunakan pada komunikasi jarak dekat, contoh paling umum pemakaian IR adalah remote control (untuk televisi). Gelombang IR mudah dibuat, harganya murah, lebih bersifat directional, tidak dapat menembus tembok atau benda gelap, memiliki fluktuasi daya tinggi dan dapat diinterferensi oleh cahaya matahari. Pengirim dan penerima IR menggunakan Light Emitting Diode (LED) dan Photo Sensitive Diode (PSD). WLAN menggunakan IR sebagai media transmisi karena IR dapat menawarkan data rate tinggi (100-an Mbps), konsumsi dayanya kecil dan harganya murah. WLAN dengan IR memiliki tiga macam teknik, yaitu Directed Beam IR (DBIR), Diffused IR (DFIR) dan Quasi Diffused IR (QDIR).

a. DFIR

Teknik ini memanfaatkan komunikasi melalui pantulan. Keunggulannya adalah tidak memerlukan Line Of Sight (LOS) antara pengirim dan penerima dan menciptakan portabelitas terminal. Kelemahannya adalah membutuhkan daya yang tinggi, data rate dibatasi oleh multipath, berbahaya untuk mata telanjang dan resiko interferensi pada keadaan simultan adalah tinggi.

Gambar 2.3 Gambar Diffused IR (DFIR)

b. DBIR

Teknik ini menggunakan prinsip LOS, sehingga arah radiasinya harus diatur. Keunggulannya adalah konsumsi daya rendah, data rate tinggi dan tidak ada multipath. Kelemahannya adalah terminalnya harus fixed dan komunikasinya harus LOS.

Gambar 2.4 Gambar Directed Beam IR (DBIR)

c. QDIR

Setiap terminal berkomunikasi dengan pemantul, sehingga pola radiasi harus terarah. QDIR terletak antara DFIR dan DBIR (konsumsi daya lebih kecil dari DFIR dan jangkaunnya lebih jauh dari DBIR).

Gambar 2.5 Gambar Quasi Diffused IR (QDIR)

2.4.1.2 Radio Frequency (RF).

Penggunaan RF tidak asing lagi bagi kita, contoh penggunaannya adalah pada stasiun radio, stasiun TV, telepon cordless dll. RF selalu dihadapi oleh masalah spektrum yang terbatas, sehingga harus dipertimbangkan cara memanfaatkan spektrum secara efisien. WLAN menggunakan RF sebagai media transmisi karena jangkauannya jauh, dapat menembus tembok, mendukung teknik handoff, mendukung mobilitas yang tinggi, meng-cover daerah jauh lebih baik dari IR dan dapat digunakan di luar ruangan. WLAN, di sini, menggunakan pita ISM dan memanfaatkan teknik spread spectrum (DS atau FH)

  • DS adalah teknik yang memodulasi sinyal informasi secara langsung dengan kode-kode tertentu (deretan kode Pseudo noise/PN dengan satuan chip).

  • FH adalah teknik yang memodulasi sinyal informasi dengan frekuensi yang loncat-loncat (tidak konstan). Frekuensi yang berubah-ubah ini dipilih oleh kode-kode tertentu (PN).

Tabel 2.1 Pita ISM

WLAN dengan RF memiki beberapa topologi sebagai berikut :
a. Tersentralisasi

Nama lainnya adalah star network atau hub based. Topologi ini terdiri dari server (c) dan beberapa terminal pengguna, di mana komunikasi antara terminal harus melalui server terlebih dahulu. Keunggulannya adalah daerah cakupan luas, transmisi relatif efisien dan desain terminal pengguna cukup sederhana karena kerumitan ada pada server. Kelemahannya adalah delay-nya besar dan jika server rusak maka jaringan tidak dapat bekerja.(1)

Gambar 2.6 Gambar Topologi Tersentralisasi

b. Terdistribusi

Dapat disebut peer to peer, di mana semua terminal dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa memerlukan pengontrol (servers). Di sini, server diperlukan untuk mengoneksi WLAN ke LAN lain. Topologi ini dapat mendukung operasi mobile dan merupakan solusi ideal untuk jaringan adhoc. Keunggulannya jika salah satu terminal rusak maka jaringan tetap berfungsi, delay-nya kecil dan kompleksitas perencanaan cukup minim. Kelemahannya adalah tidak memiliki unit pengontrol jaringan (kontrol daya, akses dan timing).

Gambar 2.7 Gambar Topologi Terdistribusi

c. Jaringan selular

Jaringan ini cocok untuk melayani daerah dengan cakupan luas dan operasi mobile. Jaringan ini memanfaatkan konsep microcell, teknik frequency reuse dan teknik handover. Keunggulannya adalah dapat menggabungkan keunggulan dan menghapus kelemahan dari ke dua topologi di atas. Kelemahannya adalah memiliki kompleksitas perencanaan yang tinggi.

Gambar 2.8 Gambar Topologi selular

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada WLAN adalah :

  1. Data rate tinggi (>1 Mbps), daya rendah dan harga murah.

  2. Metode akses yaitu metode membagi kanal kepada banyak pemakai dengan aturan-aturan tertentu.

  3. Media transmisi yang merupakan faktor penting pada keterbatasan data rate dan memiliki teknik tersendiri, di mana bila teknik yang berhubungan dengan media transmisi (seperti teknik propagasi dalam ruangan, teknik modulasi dll) dapat diperhitungkan dengan baik maka akan dihasilkan sistem WLAN yang tangguh.

  4. Topologi yaitu cara dan pola yang digunakan dalam menghubungkan semua terminal

    2.5 Perbedaan Antara Jaringan Wireless dan Jaringan Kabel.

Jaringan wireless memiliki keunggulan dan kelemahan sebagai berikut :

  1. Keunggulannya adalah biaya pemeliharannya murah (hanya mencakup stasiun sel bukan seperti pada jaringan kabel yang mencakup keseluruhan kabel), infrastrukturnya berdimensi kecil, pembangunannya cepat, mudah dikembangkan (misalnya dengan konsep mikrosel dan teknik frequency reuse), mudah & murah untuk direlokasi dan mendukung portabelitas.

  2. Kelemahannya adalah biaya peralatan mahal (kelemahan ini dapat dihilangkan dengan mengembangkan dan memproduksi teknologi komponen elektronika sehingga dapat menekan biaya jaringan), delay yang besar, adanya masalah propagasi radio seperti terhalang, terpantul dan banyak sumber interferensi (kelemahan ini dapat diatasi dengan teknik modulasi, teknik antena diversity, teknik spread spectrum dll), kapasitas jaringan menghadapi keterbatas spektrum (pita frekuensi tidak dapat diperlebar tetapi dapat dimanfaatkan dengan efisien dengan bantuan bermacam-macam teknik seperti spread spectrum/DS-CDMA) dan keamanan data (kerahasian) kurang terjamin (kelemahan ini dapat diatasi misalnya dengan teknik spread spectrum).

  3. Yang unik dari media transmisi wireless adalah :
    1. Sinyalnya terputus-putus (intermittence) yang disebabkan oleh adanya benda antara pengirim dan penerima sehingga sinyal terhalang dan tidak sampai pada penerima (gejala ini sangat terasa pada komunikasi wireless dengan IR).

    2. Bersifat broadcast akibat pola radiasinya yang memancar ke segala arah, sehingga semua terminal dapat menerima sinyal dari pengirim.

    3. Sinyal pada media radio sangat komplek untuk dipresentasikan kerena sinyalnya menggunakan bilangan imajiner, memiliki pola radiasi dan memiliki polarisasi.

    4. Mengalami gejala yang disebut multipath yaitu propagasi radio dari pengirim ke penerima melalui banyak jalur yang LOS dan yang tidak LOS/terpantul.(1)

Gambar 2.9 Gambar multipath


Arah dari perkembangan wireless data adalah aplikasi multimedia (menggabungkan data, suara dan gambar diam maupun bergerak yang dapat dihubungkan ke unit portabel dan ke jaringan tertentu), multirate (memungkinkan pengoperasian beberapa kecepatan data yang berbeda pada satu pita frekuensi) dan multipower (fleksibelitas memilih sumber daya dari baterai kecil, baterai mobil, kabel PLN atau yang lain dan menyesuaikan besarnya konsumsi daya dengan kualitas pelayanan yang baik). WLAN merupakan salah satu basis dari arah perkembangan itu. Pita ISM memberikan peluang kepada WLAN dengan RF untuk menawarkan data rate yang cukup tinggi. Dan dengan dikomersialkan teknik spread spectrum maka WLAN memiliki peluang yang besar dalam melahirkan sistem WLAN yang sangat baik di waktu yang akan datang.

Mengenai Wireless LAN

Wireless Local Area Network (WLAN) adalah jaringan komputer yang menggunakan gelombang radio sebagai media transmisi data. Informasi (data) ditransfer dari satu komputer ke komputer lain menggunakan gelombang radio. WLAN sering disebut sebagai Jaringan Nirkabel atau jaringan wireless. Proses komunikasi tanpa kabel ini dimulai dengan bermunculannya peralatan berbasis gelombang radio, seperti walkie talkie, remote control, cordless phone, ponsel, dan peralatan radio lainnya. Lalu adanya kebutuhan untuk menjadikan komputer sebagai barang yang mudah dibawa (mobile) dan mudah digabungkan dengan jaringan yang sudah ada. Hal-hal seperti ini akhirnya mendorong pengembangan teknilogi wireless untuk jaringan komputer.

Pada tahun 1997, sebuah lembaga independen bernama IEEE membuat spesifikasi/standar WLAN pertama yang diberi kode 802.11. Peralatan yang sesuai standar 802.11 dapat bekerja pada frekuensi 2,4GHz, dan kecepatan transfer data (throughput) teoritis maksimal 2Mbps. Sayangnya peralatan yang mengikuti spesifikasi 802.11 kurang diterima dipasar. Througput sebesar ini dianggap kurang memadai untuk aplikasi multimedia dan aplikasi kelas berat lainnya.

Pada bulan Juli 1999, IEEE kembali mengeluarkan spesifikasi baru bernama 802.11b. Kecepatan transfer data teoritis maksimal yang dapat dicapai adalah 11 Mbps. Kecepatan tranfer data sebesar ini sebanding dengan Ethernet tradisional (IEEE 802.3 10Mbps atau 10Base-T). Peralatan yang menggunakan standar 802.11b juga bekerja pada frekuensi 2,4Ghz. Salah satu kekurangan peralatan wireless yang bekerja pada frekuensi ini adalah kemungkinan terjadinya interferensi dengan cordless phone, microwave oven, atau peralatan lain yang menggunakan gelombang radio pada frekuensi sama.

Pada saat hampir bersamaan, IEEE membuat spesifikasi 802.11a yang menggunakan teknik berbeda. Frekuensi yang digunakan 5Ghz, dan mendukung kecepatan transfer data teoritis maksimal sampai 54Mbps. Gelombang radio yang dipancarkan oleh peralatan 802.11a relatif sukar menembus dinding atau penghalang lainnya. Jarak jangkau gelombang radio relatif lebih pendek dibandingkan 802.11b. Secara teknis, 802.11b tidak kompatibel dengan 802.11a. Namun saat ini cukup banyak pabrik hardware yang membuat peralatan yang mendukung kedua standar tersebut.
Pada tahun 2002, IEEE membuat spesifikasi baru yang dapat menggabungkan kelebihan 802.11b dan 802.11a. Spesifikasi yang diberi kode 802.11g ini bekerja pada frekuensi 2,4Ghz dengan kecepatan transfer data teoritis maksimal 54Mbps. Peralatan 802.11g kompatibel dengan 802.11b, sehingga dapat saling dipertukarkan. Misalkan saja sebuah komputer yang menggunakan kartu jaringan 802.11g dapat memanfaatkan access point 802.11b, dan sebaliknya.
Ada beberapa istilah yang cukup popular berkaitan dengan wireless. Beberapa di antaranya yaitu:

1. Wi-Fi atau WiFi
Wi-Fi atau Wireless Fidelity adalah nama lain yang diberikan untuk produk yang mengikuti spesifikasi 802.11. Sebagian besar pengguna komputer lebih mengenal istilah Wi-Fi card/adapter dibandingkan dengan 802.11 card/adapter. Wi-Fi merupakan merek dagang, dan lebih popular dibandingkan kata “IEEE 802.11”.

2. Channel
Bayangkanlah pita frekuansi seperti sebuah jalan, dan channel seperti jalur-jalur pemisah pada jalan tersebut. Peralatan 802.11a bekerja pada frekuensi 5,15 - 5,875 GHz, sedangkan peralatan 802.11b dan 802.11g bekerja pada frekuansi 2,4 - 2,497 GHz. Jadi , 802.11a menggunakan pita frekuensi lebih besar dibandingkan 802.11b atau 802.11g. Semakin lebar pita frekuensi, semakin banyak channel yang tersedia.
Setiap channel dapat digunakan untuk mengangkut informasi secara penuh. Pada 802.11a tersedia sampai 8 non-overlapping channel. Masing-masing dapat “dibebani” throughput sebesar 54Mbps, atau total throughput 432Mbps. Sedangkan pada 802.11b/g tersedia 3 non-overlapping channel yang masing-masing dapat “dibebani” throughput sampai 11Mbps, atau total throughput 33Mbps.
Agar dapat saling berkomunikasi, setiap peralatan wireless harus menggunakan channel yang sama. Pengguna dapat mengatur nomor channel saat melakukan instalasi driver atau melalui utiliti bantu yang disediakan masing-masing vendor.

3. MIMO
MIMO (Multiple Input Multiple Output) merupakan teknologi Wi-Fi terbaru. MIMO dibuat berdasarkan spesifikasi Pre-802.11n. Kata ”Pre-” menyatakan “Prestandard versions of 802.11n”. MIMO menawarkan peningkatan throughput, keunggulan reabilitas, dan peningkatan jumlah klien yg terkoneksi. Daya tembus MIMO terhadap penghalang lebih baik, selain itu jangkauannya lebih luas sehingga Anda dapat menempatkan laptop atau klien Wi-Fi sesuka hati. Access Point MIMO dapat menjangkau berbagai perlatan Wi-Fi yg ada disetiap sudut ruangan.
Secara teknis MIMO lebih unggul dibandingkan saudara tuanya 802.11a/b/g. Access Point MIMO dapat mengenali gelombang radio yang dipancarkan oleh adapter Wi-Fi 802.11a/b/g. MIMO mendukung kompatibilitas mundur dengan 802.11 a/b/g. Peralatan Wi-Fi MIMO dapat menghasilkan kecepatan transfer data sebesar 108Mbps.


4. WEP
WEP (Wired Equivalent Privacy) merupakan salah satu fitur keamanan/sekuriti yang bersifat build-in pada peralatan Wi-Fi. Keamanan merupakan masalah yang serius bagi pengguna Wi-Fi akibat gelombang radio yang dipancarkan adapter Wi-Fi dapat diterima oleh semua peralatan Wi-Fi yang ada di sekitarnya (atau gedung di sebelahnya). Tentu saja kondisi semacam ini sangat rawan krn informasi dapat “ditangkap” dengan mudah. Oleh sebab itu Wi-Fi dibuat dengan beberapa jenis enkripsi : 40 bit, 64 bit, 128 bit dan 256 bit. Pengguna WEP akan meningkatkan keamanan data yang ditransfer meskipun konsekuensinya penurunan throughput data.

5. SSID
SSID (Service Set IDentifier) merupakan identifikasi atau nama untuk jaringan wireless. Setiap peralatan Wi-Fi harus menggunakan SSID tertentu. Peralatan Wi-Fi dianggap satu jaringan jika mengunakan SSID yang sama. Agar dapat berkomunikasi, setiap perlatan wireless haruslah menggunakan SSID dan channel yang sama. SSID bersifat case-sensitive, penulisan huruf besar dan huruf kecil sangat berpengaruh.

6. SES
SES merupakan singkatan dari SecureEasySetup. SES merupakan jawaban terhadap kesulitan setup security jaringan yg selama ini dirasakan sejumlah kalangan. Hanya dengan menekan satu tombol, SES secara otomatis memberikan SSID dan kode sekuriti ke router dan adapter serta menerapkan security WPA (Wireless Protected Access). Untuk menggunakan SES, pengguna hanya perlu menekan tombol SES pada router, lalu pada client, dan selanjutnya kedua perangkat akan membuat sebuah jalur komunikasi yang aman.


TES & TEKNOLOGI WLAN

Image

Klien nirkabel Receiver

Wireless LAN client receivers are needed to connect a computing device, eg laptop, PDA, desktop, to the wired network via an access point. LAN nirkabel klien receivers diperlukan untuk menghubungkan perangkat komputer, seperti laptop, PDA, desktop, ke jaringan kabel melalui jalur akses. The receiver takes care of data processing in the physical and MAC layer of the OSI framework. Penerima yang membutuhkan perawatan dari pengolahan data dalam lapisan fisik dan MAC dari kerangka OSI. Depending on the interfaces of the computing devices, there are different forms of receivers, however most of them come in PCMCIA and Compact Flash cards, PCI/ISA adapters, or USB adapters. Tergantung pada antarmuka dari perangkat komputasi, terdapat berbagai bentuk receivers, namun kebanyakan dari mereka datang PCMCIA dan Compact Flash card, PCI / ISA Adapters, atau USB Adapters.

Access Point Akses Point

Access points (APs) are needed only in the Infrastructure Mode of WLANs. Jalur akses (APS) yang diperlukan hanya dalam Infrastruktur Mode dari WLANs. They provide the wireless clients with a point of access into a network, as its name already suggests. Mereka menyediakan klien nirkabel dengan titik akses ke jaringan, seperti yang namanya sudah menunjukkan. They are comparable to a sophisticated Ethernet switch and operate in half-duplex mode, ie they either receive or transmit at a given time. Dibandingkan mereka yang canggih dan beralih Ethernet beroperasi dalam modus half-duplex, yaitu mereka dapat menerima atau mengirimkan pada suatu waktu. APs can be used in different constellations, and therefore support three modes of operation known as Root Mode, Bridge Mode, and Repeater Mode: APS dapat digunakan di berbagai constellations, dan karena itu mendukung tiga modus operasi yang dikenal sebagai root Mode, Mode Bridge, dan Repeater Mode:

  • In the Root Mode , the AP is connected to a wired network and the wireless client directly accesses this network via the AP. Di Root Mode, AP yang terhubung ke jaringan kabel dan nirkabel klien langsung mengakses jaringan ini melalui AP. Also, several clients can talk to each other by means of using APs that are connected to the same backbone network. Selain itu, beberapa klien dapat berbicara satu sama lain dengan menggunakan APS yang terhubung ke jaringan tulang punggung yang sama. Root Mode is the default configuration of most APs. Mode root adalah konfigurasi standar yang paling APS.
  • The Bridge Mode of APs makes is possible to wirelessly connect two separate wired network segments with each other. The Bridge Mode dari APS membuat dimungkinkan untuk melakukan koneksi nirkabel dua segmen jaringan kabel satu dengan yang lain. No clients use the AP to enter a network. Tidak ada klien menggunakan AP untuk memasukkan jaringan. The bridging functionality of APs is only found in a few commercially available APs, which are significantly more expensive than their non-bridging counterparts. Bridging fungsi yang APS hanya ditemukan di beberapa komersial tersedia APS, yang secara signifikan lebih mahal daripada mereka non-bridging negeri.
  • An AP in Repeater Mode provides a wireless upstream link into a network instead of being hard-wired to the network and using its Ethernet port. An di AP Repeater Mode nirkabel hulu menyediakan link ke jaringan, bukan yang keras-kabel ke jaringan dan melalui port Ethernet. It functions as intermediary between the clients and an AP in root mode for entry into the network, and is thought to either extend the perceived range of a WLAN or to make WLAN deployment possible in difficult environments. Ia berfungsi sebagai perantara antara klien dan AP di root mode untuk masuk ke jaringan, dan merupakan salah satu pemikiran untuk memperluas jangkauan dirasakan WLAN atau membuat WLAN deployment mungkin sulit lingkungan. Since an AP in repeater mode connects to another AP (root mode) and the wireless clients, its throughput is reduced dramatically. Sejak sebuah AP pengulang dalam modus terhubung ke AP lain (root mode) dan nirkabel klien, throughput-nya berkurang drastis. The repeater mode should only be used if absolutely necessary. Pengulang modus yang hanya boleh digunakan jika benar-benar diperlukan.

WLAN Antennas WLAN Antena

The wireless transmission of data and voice necessarily needs antennas – at sender and receiver – for proper operation. Nirkabel transmisi data dan suara tentu memerlukan antena - di pengirim dan penerima - untuk semestinya. The selection of appropriate antennas can impact the functionality of a system dramatically. Pilihan yang tepat antena dapat mempengaruhi fungsi sistem secara dramatis. However, none of the WLAN standards regulates the use of antennas and one is free to choose. Namun, tidak satupun yang mengatur standar WLAN penggunaan antena dan satu bebas untuk memilih. Please note that adding an antenna does not increase the power you originally started with, but focuses it in a particular direction as to increase reception, but also limits the beam radius. Perlu diingat bahwa menambahkan antena tidak meningkatkan daya dimulai dengan Anda, tetapi fokus dalam arah tertentu seperti untuk meningkatkan penerimaan, tetapi juga membatasi beam radius. Proper installation of the antenna is crucial. Benar instalasi antena sangat penting. There are a wide range of antennas available on the market and the following description of antennas and parameters may help in selecting the correct one for an application. Ada berbagai macam antena yang tersedia di pasaran dan berikut ini keterangan antena dan parameter yang dapat membantu dalam memilih yang benar untuk satu aplikasi.

  • Onmidirectional Antennas: radiate the signal outward equally in all directions. Antena Onmidirectional: memancarkan sinyal ke luar sama-sama di seluruh penjuru. They are shaped like a tall pole and have their highest sensitivity in horizontal direction. Mereka berbentuk seperti tiang tinggi dan mereka memiliki sensitivitas tertinggi dalam arah horisontal. They are used to cover large areas where the exact location of the receiver is unknown. Mereka yang besar digunakan untuk menutup tempat yang tepat lokasi dari penerima tidak diketahui. One disadvantage is that an omnidirectional antenna picks up a lot of noise surrounding it and distributes the transmit power over all directions making for a weaker signal. Salah satu yang merugikan adalah sebuah antena omnidirectional picks up banyak kebisingan sekitarnya dan mendistribusikan yang mengirimkan kuasa atas segala arah untuk membuat suatu sinyal lemah.
  • Sectorized Antennas: Antena Sectorized: have a similar shape of omnidirectional, but have reflectors behind the pole that direct the transmitted energy in a certain direction. ada yang mirip bentuk omnidirectional, tetapi ada di belakang tiang reflectors langsung bahwa energi yang dikirim dalam arah tertentu. Mostly these sectors are 60° to 120° and form the radiation pattern as needed. Kebanyakan sektor ini adalah 60 ° ke 120 ° dan membentuk pola radiasi yang diperlukan. This kind of antenna is used when multiple clients need to access an AP from the same direction. Antena jenis ini digunakan ketika beberapa klien membutuhkan akses ke sebuah AP dari arah yang sama. They increase range and decrease interference. Mereka menaikkan dan menurunkan berbagai gangguan.
  • Yagi Antennas: consist of multiple elements that are all aligned to guide incoming radio waves from a particular direction to the receiving dipole of the antenna. Antena Yagi: terdiri dari beberapa elemen yang berpihak kepada semua panduan masuk gelombang radio tertentu dari arah untuk penerimaan dari antena dipole. They are similar to old TV aerial, but smaller in size. Mereka mirip dengan TV tua udara, tetapi dalam ukuran lebih kecil. They are very directional and the radiation pattern has an opening angle of anywhere from 15° to 60°. Mereka sangat arah pola radiasi dan memiliki membuka dari sudut mana saja dari 15 ° sampai 60 °. Adding more elements means more gain, a longer antenna, but also more cost. Menambahkan elemen mendapatkan lebih berarti, antena yang lebih panjang, tapi juga lebih banyak biaya. These antennas are used for point-to-point or point-to-multipoint application where long distances need to be spanned. Antena ini digunakan untuk point-to-point atau point-to-multipoint aplikasi dimana panjang jarak harus spanned.
  • Parabolic (dish) Antennas: are the most directional antennas and deliver the highest gains. Parabolic (hidangan) Antena: yang paling directional antena dan memberikan keuntungan tertinggi. They are tightly focused on a distinct direction, which makes them ideal for point-to-point operations. Mereka ketat difokuskan pada arah yang berbeda, yang membuat mereka ideal untuk point-to-point operasi. The dish can either be a meshed wire grid or solid metal. Hidangan yang dapat menjadi kedap kawat atau kotak solid metal. The diameter ranges from several inch to a few feet. Diameter berkisar dari beberapa inci ke beberapa kaki. A correctly aligned pair of parabolic antennas can extend the range of wireless networks up to 20 miles. J benar berpihak sepasang antena Parabolic dapat memperluas jangkauan jaringan wireless hingga 20 mil.

Polarization plays an important role in antennas. Polarisasi memainkan peran penting dalam antena. This parameter refers to the direction the electro-magnetic waves travel through the air. Parameter ini merujuk ke arah yang gelombang elektro-magnetik perjalanan melalui udara. This can be horizontal or vertical, but also – in very rare cases – a circular polarization is used. Ini bisa horisontal atau vertikal, tetapi juga - dalam kasus yang sangat jarang - circular polarisasi yang digunakan. Transmitter and receiver must be used in the same polarization or no communication is possible. Penerima harus digunakan dalam polarisasi yang sama atau tidak ada komunikasi yang mungkin. Omni-directional and sectorized antennas are vertically polarized, whereas Yagi and parabolic antennas can be either horizontally or vertically polarized, depending on environment and application. Omni-directional antena dan sectorized adalah polarized vertikal, sedangkan Yagi dan antena Parabolic dapat dilakukan secara vertikal atau horizontal polarized, tergantung pada lingkungan dan aplikasi.

3COM ® dan Aman Fortress WLAN Komponen

3Com® and Fortress Technologies have a complete end-to-end solution with an integrated approach and a proven family of wireless and wired enterprise networking products with strong customer support. 3COM Fortress Technologies ® dan memiliki lengkap ke-akhir-akhir solusi dengan pendekatan terpadu dan membuktikan keluarga nirkabel dan kabel jaringan perusahaan dengan produk yang kuat dukungan pelanggan. The WLAN security solution for the US Federal government consists of the following key components (see network diagram below). Dengan keamanan WLAN solusi untuk US Federal pemerintah terdiri dari komponen utama berikut (lihat Diagram jaringan di bawah).

WLAN Client Components Komponen WLAN Client
  • 3Com 11a/b/g Wireless PC Card with XJACK® Antenna 3COM 11a/b/g Wireless PC Card dengan XJACK ® Antena

  • 3Com 11a/b/g Wireless PCI Adapter 3COM 11a/b/g Wireless PCI Adapter
  • Secure, high-performance TAA-compliant client devices enable laptops or desktop PCs to connect to the wireless LAN in ad hoc peer-to-peer or infrastruture modes. Aman, kinerja tinggi taa-compliant klien memungkinkan perangkat laptop atau PC desktop untuk menyambung ke LAN nirkabel di ad hoc peer-to-peer atau infrastruture mode.
  • Fortress Secure Client Benteng Aman Klien
  • Lightweight, easy-to-use FIPS 140-2 certified software provides authentication and encryption for laptops, PDAs, tablet PCs, and thin clients, securing communication between devices and the WLAN. Ringan, mudah digunakan FIPS 140-2 sertifikasi perangkat lunak menyediakan otentikasi dan enkripsi untuk laptop, PDA, tablet PC, dan tipis klien, pengamanan komunikasi antar perangkat dan WLAN.
    WLAN Device Components Komponen WLAN Device
  • 3Com Wireless LAN Access Point 8750 3COM Wireless LAN Access Point 8750

  • 3Com Wireless LAN Access Point 8250 3COM Wireless LAN Access Point 8250
  • High-performance, TAA-compliant enterprise APs connect 802.11a/b/g wireless-enabled clients to the WLAN and initiate data encryption, authentication, and authorization. Kinerja tinggi, taa-compliant perusahaan APS menyambung 802.11a/b/g wireless-diaktifkan klien ke WLAN dan data melakukan enkripsi, otentikasi, dan otorisasi.
  • 3Com Wireless LAN Antenna Accessories 3COM Wireless LAN Antena Aksesoris
  • External AP antenna options increase AP coverage, improve building aesthetics, and customize and shape RF coverage patterns. Antena eksternal AP AP pilihan meningkatkan cakupan, memperbaiki bangunan estetika, dan menyesuaikan dan bentuk pola RF cakupan.
    LAN Components Komponen LAN
  • 3Com SuperStack® 3 Switch 4400PWR 3COM SuperStack ® 3 Switch 4400PWR
  • Layer 2 Power over Ethernet (PoE) switch supplies power and data over a single Ethernet cable to 802.3af-compliant wireless devices. Lapisan atas 2 Power Ethernet (Poe) mengalihkan pasokan listrik dan data melalui satu kabel Ethernet 802.3af ke-persyaratan perangkat nirkabel.
  • AF2100 Wireless Security Gateway AF2100 Wireless Security Gateway

  • AF7500 Wireless Security Gateway AF7500 Wireless Security Gateway
  • FIPS 140-2 certified appliances secure the wireless network edge, isolate and control traffic, provide seamless mobility, and authenticate users. FIPS 140-2 bersertifikat appliances aman jaringan nirkabel tepi, mengisolasikan dan pengendalian lalu lintas, memberikan mobilitas halus, dan otentikasi pengguna.
    Network Management Jaringan Manajemen
  • Fortress Access Control Server Benteng Access Control Server
  • Scalable application centrally manages user and device authentication, access, and control for the entire WLAN. Scalable pusat mengelola aplikasi dan pengguna perangkat otentikasi, akses, dan kontrol untuk seluruh WLAN.
  • 3Com Network Director 3COM Direktur Jaringan
  • Discovery and topology application maps WLAN devices and centralizes firmware upgrades, backups and restores, and device monitoring and reporting. Discovery dan topologi aplikasi peta dan perangkat WLAN centralizes upgrade firmware, backup dan kembali, dan perangkat monitoring dan pelaporan.
  • 3Com Site Survey Utility 3COM Site Survey Utility
  • Monitors WLAN networks and displays device settings such as signal strength, MAC address, encryption type, and channel assignment. Memonitor jaringan WLAN dan menampilkan perangkat pengaturan seperti kekuatan sinyal, alamat MAC, enkripsi jenis dan saluran tugas.


    View Larger Image Lihat gambar lebih besar

    Jaringan lokal nirkabel atau WLAN adalah suatu jaringan area lokal nirkabel yang menggunakan gelombang radio sebagai media tranmisinya: link terakhir yang digunakan adalah nirkabel, untuk memberi sebuah koneksi jaringan ke seluruh pengguna dalam area sekitar. Area dapat berjarak dari ruangan tunggal ke seluruh kampus. Tulang punggung jaringan biasanya menggunakan kable, dengan satu atau lebih titik akses jaringan menyambungkan pengguna nirkabel ke jaringan berkabel.

    LAN nirkabel adalah suatu jaringan nirkabel yang menggunakan frekuensi radio untuk komunikasi antara perangkat komputer dan akhirnya titik akses yang merupakan dasar dari transiver radio dua arah yang tipikalnya bekerja di bandwith 2,4 GHz (802.11b, 802.11g) atau 5 GHz (802.11a). Kebanyakan peralatan mempunyai kualifikasi Wi-Fi, IEEE 802.11b atau akomodasi IEEE 802.11g dan menawarkan beberapa level keamanan seperti WEP dan atau WPA.

    Notebook yang terhubungkan ke titik akses nirkabel menggunakan sebuah kartu nirkabel PCMCIA.